Tidak terasa tahun akan beralih, begitu pula dengan target dan tujuan yang akan dicapai oleh perusahaan. Banyak perusahaan yang melewatkan begitu saja peralihan tahun ini tanpa mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencapai target usaha yang lebih baik. Ada baiknya dalam peralihan tahun ini, perusahaan melakukan proses pengkajian terkait dengan kebutuhan pengembangan usahanya agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Lalu bagaimana langkah-langkah yang harus diambil oleh suatu perusahaan agar dapat mencapai target perkembangan yang diharapakan.
(1) Review performa
Lakukan penilaian terkait kinerja yang sudah tercapai, sampai sejauh mana dan apa kendala yang ditemukan. Sebuah perusahaan diharapkan dapat untuk lebih terampil dalam menetapkan suatu bentuk strategi yang diharapkan agar suatu kinerja usaha dapat tercapai paling tidak mendekati untuk tercapai. Penetapan strategi perusahaan harus mempertimbangkan SWOT Analysis yang ada. Bagaimana suatu performa tersebut terukur dan teridentifikasi secara strategis untuk dapat digunakan dalam menyusun target ke depannya.
(2) Penentuan langkah dan target strategis
Dalam menentukan langkah strategis hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi dari kinerja organisasi yang dimaksudkan tersebut. Bagaimana dari proses penetapan kerangka kerja tersebut disesuaikan dengan ruang lingkup fungsi dan kinerja tanggung jawab kinerja sesuai dengan manajemen organisasi yang ada. Bagaimana suatu tahapan dari langkah strategis ditetapkan dalam organisasi yang dimaksud.
(3) Proses Penetapan Metode Evaluasi Kinerja
Hal yang sangat penting yang perlu dikembangkan dalam suatu tahapan pentapan proses pengukuran terhadap penetapan metode dan evaluasi sistem kinerja yang akan ditetapkan. Bagaimana tahapan dari proses evaluasi tersebut akan dikembangkan, maka alur penetapan evaluasi harus dijalankan di mana di dalamnya akan menetapkan suatu tahapan proses evaluasi kinerja yang tepat maka tahapan optimalisasi dari suatu bentuk prosedur dan pengembangan kinerja akan dapat menjadi lebih optimal dan sesuai dengan mekanisme operasional yang akan ditetapkan.
Kerangka kerja perusahaan hendaknya menjadi suatu format dinamis yang disesuaikan dengan ruang lingkup dan proses operasional yang ada di dalam perusahaan. Dimana penetapan target perusahaan seharusnya menjadi suatu bentuk stimulus yang akan memotivasi kinerja komponen yang ada di dalam perusahaan, bukan menjadi aspek yang justru menimbulkan de-motivasi pada diri karyawan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Selasa, 15 Januari 2013
Penyusunan Kerangka Kerja Tahunan
Sabtu, 05 Januari 2013
Peranan Konsultan dalam Menyusun ISO 9001
Apakah perusahaan Anda tertarik untuk menerapkan ISO 9001? Banyak perusahaan melihat kepentingan penyusunan ISO 9001 adalah hanya untuk kebutuhan sertifikasi saja sehingga menyerahkan seluruh penyusunan ISO 9001 kepada konsultan dan berharap bahwa konsultan yang dapat mengerjakan seluruhnya. Mungkin benar, apabila tujuan akhir dari perusahaan adalah untuk mendapatkan sertifikasi, namun apabila tujuan dari program ini adalah untuk pemeliharaan dan perbaikan perusahaan, tentunya peranan konsultan harus menjadi pertimbangan utama.

Dalam menjalankan fungsi dalam proses pengembangan sistem sertifikasi ISO 9001, perusahaan dapat mengalokasikan peranan konsultan adalah sebagai berikut:
(1) Trainer dalam penyusunan Sistem ISO 9001 dan Internal Audit
Dalam menyusun program ISO 9001, pastikan karyawan perusahaan mendapatkan informasi yang jelas dalam proses aplikasi standar klausul ISO 9001 dalam organisasi. Memahami inti dasar dari manfaat ISO 9001 dan bagaimanan mengaplikasikan klausul-klausul yang ada dalah nilai yang penting dibandingkan dengan hanya memahami standar klausul secara text book referensi.
(2) Fungsi konsultan dalam membantu proses pemecahan masalah
Tujuan utama bagi perusahaann yang harus dipahami bukanlah hanya ISO 9001 saja, namun juga harus mempertimbangkan target untuk memperbaiki aspek strategi bisnis yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Penggunaan ISO 9001 sebagai sarana pengkajian dan perumusan ulang terhadap sistem yang dibentuk dalam organisasi memberikan pengaruh yang positif dibandingkan hanya dengan sekedar lembaran sertifikasi. Pengalaman dan teknik pemecahan masalah adalah hal penting yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk memastikan proses pemecahan masalah dijalankan oleh organisasi/ perusahaan.
(3) Fungsi Pendampingan dan Pengarahan Aplikasi Sistem
Inilah hal yang sangat penting dijadikan patokan mengenai bagaimana suatu sistem dapat dijalankan tanpa mengesampingkan pola kerja dan budaya lama yang sudah terbentuk. Banyak perusahaan akhirnya menggunakan Sistem ISO 9001 hanya sebagai "sistem sampingan" artinya proses yang ada hanya sebagian dimanipulasi mengikuti Sistem ISO 9001, namun sistem aktualnya sangatlah jauh berbeda.
Fungsi dan peranan konsultan dalam mengarahkan dan memberikan bimbingan strategis yang dapat secara tepat dan akurat menciptakan konsep strategis dari suatu aplikasi sistem yang ada.
Siasatilah penggunaan konsultan ISO dalam perusahaan, manfaatkan secara strategis jasa konsultan ISO ke dalam program perbaikan bisnis dalam organisasi Anda tidak hanya sekedar untuk mendapatkan proses sertifikasi saja. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengoptimalkan program sertifikasi ISO 9001 dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Dalam menjalankan fungsi dalam proses pengembangan sistem sertifikasi ISO 9001, perusahaan dapat mengalokasikan peranan konsultan adalah sebagai berikut:
(1) Trainer dalam penyusunan Sistem ISO 9001 dan Internal Audit
Dalam menyusun program ISO 9001, pastikan karyawan perusahaan mendapatkan informasi yang jelas dalam proses aplikasi standar klausul ISO 9001 dalam organisasi. Memahami inti dasar dari manfaat ISO 9001 dan bagaimanan mengaplikasikan klausul-klausul yang ada dalah nilai yang penting dibandingkan dengan hanya memahami standar klausul secara text book referensi.
(2) Fungsi konsultan dalam membantu proses pemecahan masalah
Tujuan utama bagi perusahaann yang harus dipahami bukanlah hanya ISO 9001 saja, namun juga harus mempertimbangkan target untuk memperbaiki aspek strategi bisnis yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Penggunaan ISO 9001 sebagai sarana pengkajian dan perumusan ulang terhadap sistem yang dibentuk dalam organisasi memberikan pengaruh yang positif dibandingkan hanya dengan sekedar lembaran sertifikasi. Pengalaman dan teknik pemecahan masalah adalah hal penting yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk memastikan proses pemecahan masalah dijalankan oleh organisasi/ perusahaan.
(3) Fungsi Pendampingan dan Pengarahan Aplikasi Sistem
Inilah hal yang sangat penting dijadikan patokan mengenai bagaimana suatu sistem dapat dijalankan tanpa mengesampingkan pola kerja dan budaya lama yang sudah terbentuk. Banyak perusahaan akhirnya menggunakan Sistem ISO 9001 hanya sebagai "sistem sampingan" artinya proses yang ada hanya sebagian dimanipulasi mengikuti Sistem ISO 9001, namun sistem aktualnya sangatlah jauh berbeda.
Fungsi dan peranan konsultan dalam mengarahkan dan memberikan bimbingan strategis yang dapat secara tepat dan akurat menciptakan konsep strategis dari suatu aplikasi sistem yang ada.
Siasatilah penggunaan konsultan ISO dalam perusahaan, manfaatkan secara strategis jasa konsultan ISO ke dalam program perbaikan bisnis dalam organisasi Anda tidak hanya sekedar untuk mendapatkan proses sertifikasi saja. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengoptimalkan program sertifikasi ISO 9001 dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Minggu, 21 Oktober 2012
Kesalahan dalam Melakukan Evaluasi Performa Kinerja
Salah satu hal yang menjadi nilai yang terpenting dan signifikan terkait dengan pengembangan pengelolaan perusahaan dan optimalisasi yang terkait dengan penanganan sumber daya manusia dan hubungannya dengan kinerja karyawan itu sendiri. Banyak perusahaan yang salah dalam melakukan proses pengukuran kinerja yang ada dalam perusahaannya. Kesalahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal:
(a) Indikator pengukuran kerja yang subyektif
Beberapa perusahaan memiliki faktor pengukuran kinerja yang sangat subyektif, misalnya penilaian terhadap prilaku dan personality dari karyawan yang mungkin tidak sesuai dengan atasannya. Hal ini apabila tidak dapat dijalankan dengan teknik implementasi yang positif dapat mengakibatkan kemunculan konflik dan justru malah menurunkan motivasi kerja dari karyawan yang bersangkutan.
(b) Ketidakjelasan dari ruang lingkup pekerjaan
Dalam suatu kelompok kerja yang belum dapat diperjelas ruang lingkup pekerjaannya, penetapan suatu program evaluasi adalah hal yang sulit untuk dijalankan. Pembagian dan penetapan proporsi pekerjaan secara tepat tidak tepat terinformasikan dapat mengakibatkan proses pembobotan terhadap kinerja menjadi berat sebelah dan berakibat munculnya ketidakberkembangnya dari suatu mekanisme kerja dalam organisasi.
(c) Periode pengukuran kinerja
Periode pengukuran yang terlalu panjang dapat menyebabkan adanya kesulitan untuk melakukan pengukuran yang obyektif, misalnya lupa dalam mengingat bagaimana performa kerja tersebut dijalankan, tahapan pengembangan operasional kinerja yang dijalankan tidak tepat sesuai dengan aspek yang dipertimbangkan dan dikelola serta pencatatan yang mungkin sudah terasa tidak sesuai dengan konteks yang ada. Hal ini dapat mengakibatkan seorang pekerja akan fokus untuk bekerja dengan baik justru pada saat dimana waktu yang ada mendekati batasan waktu pengukuran kinerja yang ada.
(d) Tidak terbarunya target kerja
Program evaluasi yang dijalankan harus menggunakan target yang dinamis untuk memastikan status dari proses pencapaian kinerja dan target selaras dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk menciptakan suatu mekanisme yang tepat dalam peningkatan aspek optimalisasi kinerja maka ada baiknya apabila target kinerja dapat menjadi suatu bentuk target yang dinamis sehingga mekanisme dari kehidupan organisasi dalam perusahaan tercapai.
(e) Komunikasi yang tidak tepat
Sangat penting setelah melakukan program evaluasi program kerja tersebut, untuk dapat memastikan bagaimana komunikasi yang dijalankan dalam proses evaluasi kinerja tersebut dapat menstimulasi kinerja yang tepat bukan menciptakan demotivasi. Pola komunikasi yang tepat dan dibarengi dengan informasi yang interaktif antara pemegang jabatan dan karyawan yang bersangkutan akan sangat membantu pengembangan pola komunikasi yang tepat dalam perusahaan.
Mulailah untuk mengembangkan sistem evaluasi kinerja yang tepat dalam perusahaan Anda sehingga dapat mengoptimalkan proses evaluasi dan pengembangan performa kerja yang tepat. Lakukan pencarian referensi eksternal untuk mengembangkan evaluasi performa kerja dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
(a) Indikator pengukuran kerja yang subyektif
Beberapa perusahaan memiliki faktor pengukuran kinerja yang sangat subyektif, misalnya penilaian terhadap prilaku dan personality dari karyawan yang mungkin tidak sesuai dengan atasannya. Hal ini apabila tidak dapat dijalankan dengan teknik implementasi yang positif dapat mengakibatkan kemunculan konflik dan justru malah menurunkan motivasi kerja dari karyawan yang bersangkutan.
(b) Ketidakjelasan dari ruang lingkup pekerjaan
Dalam suatu kelompok kerja yang belum dapat diperjelas ruang lingkup pekerjaannya, penetapan suatu program evaluasi adalah hal yang sulit untuk dijalankan. Pembagian dan penetapan proporsi pekerjaan secara tepat tidak tepat terinformasikan dapat mengakibatkan proses pembobotan terhadap kinerja menjadi berat sebelah dan berakibat munculnya ketidakberkembangnya dari suatu mekanisme kerja dalam organisasi.
(c) Periode pengukuran kinerja
Periode pengukuran yang terlalu panjang dapat menyebabkan adanya kesulitan untuk melakukan pengukuran yang obyektif, misalnya lupa dalam mengingat bagaimana performa kerja tersebut dijalankan, tahapan pengembangan operasional kinerja yang dijalankan tidak tepat sesuai dengan aspek yang dipertimbangkan dan dikelola serta pencatatan yang mungkin sudah terasa tidak sesuai dengan konteks yang ada. Hal ini dapat mengakibatkan seorang pekerja akan fokus untuk bekerja dengan baik justru pada saat dimana waktu yang ada mendekati batasan waktu pengukuran kinerja yang ada.
(d) Tidak terbarunya target kerja
Program evaluasi yang dijalankan harus menggunakan target yang dinamis untuk memastikan status dari proses pencapaian kinerja dan target selaras dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk menciptakan suatu mekanisme yang tepat dalam peningkatan aspek optimalisasi kinerja maka ada baiknya apabila target kinerja dapat menjadi suatu bentuk target yang dinamis sehingga mekanisme dari kehidupan organisasi dalam perusahaan tercapai.
(e) Komunikasi yang tidak tepat
Sangat penting setelah melakukan program evaluasi program kerja tersebut, untuk dapat memastikan bagaimana komunikasi yang dijalankan dalam proses evaluasi kinerja tersebut dapat menstimulasi kinerja yang tepat bukan menciptakan demotivasi. Pola komunikasi yang tepat dan dibarengi dengan informasi yang interaktif antara pemegang jabatan dan karyawan yang bersangkutan akan sangat membantu pengembangan pola komunikasi yang tepat dalam perusahaan.
Mulailah untuk mengembangkan sistem evaluasi kinerja yang tepat dalam perusahaan Anda sehingga dapat mengoptimalkan proses evaluasi dan pengembangan performa kerja yang tepat. Lakukan pencarian referensi eksternal untuk mengembangkan evaluasi performa kerja dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Minggu, 07 Oktober 2012
Fase Toilet Training pada Konsumen
Banyak perusahaan yang sedang berkembang mengalami kesulitan dalam mengembangkan konsumen yang ada. Kadangkala inovasi yang dilalui dengan riset yang panjang dan memakan biaya tinggi ujung-ujungnya justru mengalami permasalahan yang terkait dengan daya serap dari produk itu sendiri. Melihat dari permasalahan yang ada, justru dapat dilakukan suatu program evaluasi sampai dimana fase dari produk itu sendiri berada dalam masyarakat.
Produk diharapkan dikembangkan dalam suatu bentuk siklus yang nanti harapan ke depannya akan membentuk suatu loyalitas dan kebutuhan tetap. Dimana produk Anda akan menjadi suatu bentuk kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh konsumen.
Termasuk di dalamnya adalah bagaimana suatu proses aplikasi dari pengenalan produk terhadap konsumen tersebut dijalankan untuk memastikan bagaimana suatu proses siklus terhadap program pelatihan tersebut dijalankan dalam manajemen operasional penjualan produk yang ada. Dalam siklus pengenalan produk terdapat istilah fase toilet trainining. Pada fase ini, masyarakat diperkenalkan terhadap konsep produk serta diedukasi mengenai cara penggunaan maupun cara pemanfaatannya.
Pada program ini, seperti seorang orang tua yang mengajarkan kepada anaknya tata cara untuk penggunaan toilet. Justru menjadi suatu pertimbangan yang sangat esensial bahwa tahapanan ini justru dapat menjadi transfer budaya yang tepat. Penggunaan toilet adalah suatu prilaku yang ditetapkan menjadi suatu kebiasaan yang digunakan dalam suatu proses prilaku harian.
Contoh sukses yang menjalankan fase ini adalah produk mi instan, dimana akhirnya mengkonsumsi mi instan menjadi prilaku harian yang akhirnya menjadi budaya. Dimana rasanya kurang afdol apabila tidak mengkonsumsi mi instan jenis tertentu dalam kegiatan dan aktifitas harian. Sangat menarik bagi suatu perusahaan untuk mengembangkan dan mengelola produk dengan melalui kegiatan toilet trainining ini. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam kegiatan pengembangan produk dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Produk diharapkan dikembangkan dalam suatu bentuk siklus yang nanti harapan ke depannya akan membentuk suatu loyalitas dan kebutuhan tetap. Dimana produk Anda akan menjadi suatu bentuk kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh konsumen.
Termasuk di dalamnya adalah bagaimana suatu proses aplikasi dari pengenalan produk terhadap konsumen tersebut dijalankan untuk memastikan bagaimana suatu proses siklus terhadap program pelatihan tersebut dijalankan dalam manajemen operasional penjualan produk yang ada. Dalam siklus pengenalan produk terdapat istilah fase toilet trainining. Pada fase ini, masyarakat diperkenalkan terhadap konsep produk serta diedukasi mengenai cara penggunaan maupun cara pemanfaatannya.
Pada program ini, seperti seorang orang tua yang mengajarkan kepada anaknya tata cara untuk penggunaan toilet. Justru menjadi suatu pertimbangan yang sangat esensial bahwa tahapanan ini justru dapat menjadi transfer budaya yang tepat. Penggunaan toilet adalah suatu prilaku yang ditetapkan menjadi suatu kebiasaan yang digunakan dalam suatu proses prilaku harian.
Contoh sukses yang menjalankan fase ini adalah produk mi instan, dimana akhirnya mengkonsumsi mi instan menjadi prilaku harian yang akhirnya menjadi budaya. Dimana rasanya kurang afdol apabila tidak mengkonsumsi mi instan jenis tertentu dalam kegiatan dan aktifitas harian. Sangat menarik bagi suatu perusahaan untuk mengembangkan dan mengelola produk dengan melalui kegiatan toilet trainining ini. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam kegiatan pengembangan produk dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Senin, 24 September 2012
Pelatihan Audit Sumber Daya Manusia
Apakah penting untuk melakukan audit divisi sumber daya manusia (sdm)? Apa manfaat yang dapat diambil dari kegiatan pelatihan audit sumber daya manusia tersebut?
Kegiatan audit sumber daya manusia memiliki banyak tujuan, seperti untuk memastikan bagaimana kegiatan yang dijalankan di departemen sumber daya manusia, sudah dijalankan sesuai dengan Standard Operating Procedure yang ada dalam perusahaan, kesesuaian antara data informasi sistem penggajian dan status proses aktual dari proses implementasi yang dijalankan dalam unit kerja sumber daya manusia serta kegiatan lainnya untuk memastikan bahwa tahapan proses dijalankan sesuai dengan kebijakan dan peraturan perusahaan yang dijalankan untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar persyaratan yang ada, serta sebagai proses evaluasi untuk memastikan apakah sistem manajemen sumber daya manusia yang ditetapkan sudah sesuai dengan standar persyaratan yang ada.
Berikut adalah silabus dari kegiatan pelatihan pengembangan audit sumber daya manusia yang dilakukan dalam waktu satu hari.
(1) Pemahaman Standard Operating Procedur Unit Kerja HRD
Melihat jenis SOP yang ideal digunakan oleh unit kerja sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan untuk kemudian dilakukan proses pengelolaan dan alokasi implementasi yang tepat dalam aktual SOP tersebut.
(2) Pemahaman mengenai peraturan perusahaan
Dalam kegiatan ini dilakukan proses pemahaman yang terkait dengan konsep essensial dari pemahaman peraturan perusahaan itu sendiri yang kemudian akan digabungkan dalam implementasi dalam operasional yang ada dalam perusahaan.
(3) Penyusunan checklist dan metode audit
Dimana dalam kegiatan ini, peserta pelatihan mendapatkan masukan tentang teknik dan proses yang dijalankan dalam kegiatan audit tersebut.
(4) Teknik pelaporan dan proses tindak lanjut kegiatan audit
Dimana dalam tahapan proses ini diberikan penjelasan tentang bagaimana program audit tersebut dijalankan untuk memastikan bagaimana status evaluasi dari program audit ini memberikan nilai positif bagi perusahaan.
Melihat dari manfaatnya, tentu akan lebih dapat memberikan kemajuan kepada perusahaan apabila pengembangan sumber daya manusia dapat dialokasikan menjadi suatu bentuk pengembangan bersinergis dalam kegiatan perbaikan di perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Kegiatan audit sumber daya manusia memiliki banyak tujuan, seperti untuk memastikan bagaimana kegiatan yang dijalankan di departemen sumber daya manusia, sudah dijalankan sesuai dengan Standard Operating Procedure yang ada dalam perusahaan, kesesuaian antara data informasi sistem penggajian dan status proses aktual dari proses implementasi yang dijalankan dalam unit kerja sumber daya manusia serta kegiatan lainnya untuk memastikan bahwa tahapan proses dijalankan sesuai dengan kebijakan dan peraturan perusahaan yang dijalankan untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar persyaratan yang ada, serta sebagai proses evaluasi untuk memastikan apakah sistem manajemen sumber daya manusia yang ditetapkan sudah sesuai dengan standar persyaratan yang ada.
Berikut adalah silabus dari kegiatan pelatihan pengembangan audit sumber daya manusia yang dilakukan dalam waktu satu hari.
(1) Pemahaman Standard Operating Procedur Unit Kerja HRD
Melihat jenis SOP yang ideal digunakan oleh unit kerja sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan untuk kemudian dilakukan proses pengelolaan dan alokasi implementasi yang tepat dalam aktual SOP tersebut.
(2) Pemahaman mengenai peraturan perusahaan
Dalam kegiatan ini dilakukan proses pemahaman yang terkait dengan konsep essensial dari pemahaman peraturan perusahaan itu sendiri yang kemudian akan digabungkan dalam implementasi dalam operasional yang ada dalam perusahaan.
(3) Penyusunan checklist dan metode audit
Dimana dalam kegiatan ini, peserta pelatihan mendapatkan masukan tentang teknik dan proses yang dijalankan dalam kegiatan audit tersebut.
(4) Teknik pelaporan dan proses tindak lanjut kegiatan audit
Dimana dalam tahapan proses ini diberikan penjelasan tentang bagaimana program audit tersebut dijalankan untuk memastikan bagaimana status evaluasi dari program audit ini memberikan nilai positif bagi perusahaan.
Melihat dari manfaatnya, tentu akan lebih dapat memberikan kemajuan kepada perusahaan apabila pengembangan sumber daya manusia dapat dialokasikan menjadi suatu bentuk pengembangan bersinergis dalam kegiatan perbaikan di perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Sabtu, 22 September 2012
Review Standard Operating Procedure
Apakah perusahaan Anda sudah memiliki Standard Operating Procedure? Apakah sudah terimplementasi? Ada baiknya untuk melakukan proses kajian terkait dengan SOP yang sudah terimplementasi tersebut. Lalu bagaimana cara melakukan proses pengkaijan terhadap Standard Operating Procedure yang sudah dimiliki oleh perusahaan.
Tersedia tiga metode yang tepat yang dapat digunakan untuk melakukan proses pengkajian terhadap Standard Operating Procedure yang dimiliki oleh perusahaan.
(1) Metode pertama: kegiatan audit
Audit merupakan salah satu cara melakukan proses evaluasi terhadap sistem yang sudah dibuat. Meskipun terdapat kelemahan karena audit kemungkinan dilakukan dengan frekuensi pada selang waktu yang tidak pendek namun apabila dilakukan secara sistematis dapat cukup membantu tahapan proses pengembangan sistem.
(2) Metode kedua: evaluasi kinerja
Pemastian bahwa setiap tahapan SOP akan teralokasi ke dalam ruang lingkup tanggung jawab yang ditetapkan dalam perusahaan untuk memastikan bahwa indikator dari kinerja yang dimaksud terpetakan di dalam alir proses yang telah ditetapkan. Secara otomatis apabila terdapat implementasi sistem yang tepat maka indikator evaluasi dari karyawan akan terukur dalam performa dengan status penilaian yang baik dan tepat.
(3) Metode ketiga: pengukuran kepuasan pelanggan
Hal terakhir ini adalah suatu indikator yang tidak dapat ditawar lagi. Perusahaan yang telah dapat mengedepankan kepuasan pelanggan sebagai dasar utama dari penetapan strategi telah mengidentifikasi dan mengukur secara akurat akan indikator kepuasan pelanggan ke dalam sistem. Sehingga ketika SOP terlaksana secara tepat maka status indikator kepuasan pelanggan telah terbukti dapat dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang telah dibutuhkan.
Lalu bagaimana dengan proses pengkajian SOP yang ada dalam perusahaan Anda? Lakukan proses evaluasi dan pengukuran kesesuaian pelaksanaan sistem dalam perusahaan Anda secara tepat dan akurat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Tersedia tiga metode yang tepat yang dapat digunakan untuk melakukan proses pengkajian terhadap Standard Operating Procedure yang dimiliki oleh perusahaan.
(1) Metode pertama: kegiatan audit
Audit merupakan salah satu cara melakukan proses evaluasi terhadap sistem yang sudah dibuat. Meskipun terdapat kelemahan karena audit kemungkinan dilakukan dengan frekuensi pada selang waktu yang tidak pendek namun apabila dilakukan secara sistematis dapat cukup membantu tahapan proses pengembangan sistem.
(2) Metode kedua: evaluasi kinerja
Pemastian bahwa setiap tahapan SOP akan teralokasi ke dalam ruang lingkup tanggung jawab yang ditetapkan dalam perusahaan untuk memastikan bahwa indikator dari kinerja yang dimaksud terpetakan di dalam alir proses yang telah ditetapkan. Secara otomatis apabila terdapat implementasi sistem yang tepat maka indikator evaluasi dari karyawan akan terukur dalam performa dengan status penilaian yang baik dan tepat.
(3) Metode ketiga: pengukuran kepuasan pelanggan
Hal terakhir ini adalah suatu indikator yang tidak dapat ditawar lagi. Perusahaan yang telah dapat mengedepankan kepuasan pelanggan sebagai dasar utama dari penetapan strategi telah mengidentifikasi dan mengukur secara akurat akan indikator kepuasan pelanggan ke dalam sistem. Sehingga ketika SOP terlaksana secara tepat maka status indikator kepuasan pelanggan telah terbukti dapat dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang telah dibutuhkan.
Lalu bagaimana dengan proses pengkajian SOP yang ada dalam perusahaan Anda? Lakukan proses evaluasi dan pengukuran kesesuaian pelaksanaan sistem dalam perusahaan Anda secara tepat dan akurat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Jumat, 21 September 2012
Memahami Peranan Konsultan dalam Menyusun SOP
Banyak perusahaan menggunakan jasa konsultan ketika akan melakukan proses penyusunan Standard Operating Procedure. Bagaimana peranan yang tepat dalam memahami posisi dan peranan konsultan ketika menyusun SOP pada perusahaan Anda? Lalu apa manfaat dalam melakukan proses penyusunan SOP tersebut apabila dilakukan sendiri tanpa bantuan oleh konsultan?
Pada prinsipnya, perusahaan dapat mengembangkan dan menyusun Standard Operating Procedure sendiri. Langkahnya adalah dengan melakukan proses pelatihan penyusunan SOP sendiri. Adapun langkah yang dilakukan adalah sederhana yaitu adalah sebagai berikut:
(1) Pembuatan tim kerja
Proses penyusunan SOP adalah suatu proses kinerja tim, dan bukan Individu. Dalam proses ini adalah sangat penting untuk menyusun tim dari berbagai elemen unit kerja organisasi yaitu dari unit kerja yang terkait lainnya. Hal ini dilakukan sebagai peroses penjaminan bahwa tahapan proses SOP ini adalah suatu alir proses yang sinkron yang ditetapkan dalam perusahaan.
(2) Proses pelatihan tim
Tim penyusun ISO tersebut kemudian diberikan program pelatihan penyusunan SOP untuk kemudian dilakukan proses penyusunan SOP sesuai dengan program kinerja yang telah ditetapkan tersebut.
(3) Melakukan proses interview terhadap karyawan
Tim kemudian dibagi untuk melakukan proses penyusunan pola proses bisnis yang ada pada masing-masing departemen tersebut. Proses interview dapat dilakukan secara berkelompok atau individu untuk kemudian mendapatkan status alir proses yang tepat. Alir proses tersebut kemudian dipetakan untuk kemudian mendapatkan pemetaan terhadap proses bisnis yang ada.
(4) Melakukan proses penyusunan SOP
Melakukan proses penyusunan SOP yang dijalankan dalam perusahaan untuk kemudian dilakukan proses penyusunan SOP yang ada. SOP kemudian disusun untuk kemudian dibuatkan tahapan-tahapan proses yang ada.
(5) Proses implementasi
Kegiatan implementasi sendiri adalah menjalankan suatu bentuk tahapan operasional yang dilakukan sebagai bentuk "trial test" untuk dapat memastikan bahwa SOP yang ada itu sendiri telah dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan untu menjalankan proses implementasi yang dialankan.
(6) Proses evaluasi terhadap implementasi dan koreksi
Menjalankan tahapan dan proses evaluasi terhadap pembentukan dan penyusunan program implementasi yang dijalankan dalam tahapan proses evaluasi penerapan dan pengembangan Standard Operating Procedure (SOP) yang ada. Untuk kemudian dilakukan proses seleksi terkait dengan status dan tahapan proses koreksi dari SOP yang ada. Kemudian melakukan proses koreksi terhadap SOP yang ada.
Lalu bagaimana dengan pernanan konsultan, fungsi dan peranan konsultan dilakukan pada bagian berikut:
(1) Pelatihan karyawan
Dimana konsultan melakukan proses penyusunan materi program penyusunan SOP, mengajarkan teknik melakukan wawancana memberikan panduan terkait dengan status alir proses.
(2) Proses koordinasi dalam proses implementasi kegiatan penerapan SOP
Melakukan proses dan fungsi koordinasi yang terkait dengan status aplikasi dan implementasi SOP yang ada dalam perusahaan untuk kemudian melakukan proses penetapan penggunaan SOP yang ada di lapangan. Dimana salah satu fungsi dari konsultan adalah berperan dalam proses panduan referensi dari kegiatan SOP yang dijalankan tersebut.
(3) Melakukan tahapan proses evaluasi dari program pelaksanaan SOP
Melakukan status evaluasi dari implementasi dan kegiatan koreksi yang dijalankan dalam kegiatan penerapan SOP tersebut. Dimana menjalankan proses verifikasi untuk melihat kesesuian pelaksanaan dari SOP yang dijalankan tersebut.
Bagaimana perusahaan Anda akan melakukan program penyusunan SOP? Langkah-langkah internal apa yang akan dijalankan untuk memastikan bahwa peranan konsultan akan menjadi efektif dalam penyusunan SOP perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Pada prinsipnya, perusahaan dapat mengembangkan dan menyusun Standard Operating Procedure sendiri. Langkahnya adalah dengan melakukan proses pelatihan penyusunan SOP sendiri. Adapun langkah yang dilakukan adalah sederhana yaitu adalah sebagai berikut:
(1) Pembuatan tim kerja
Proses penyusunan SOP adalah suatu proses kinerja tim, dan bukan Individu. Dalam proses ini adalah sangat penting untuk menyusun tim dari berbagai elemen unit kerja organisasi yaitu dari unit kerja yang terkait lainnya. Hal ini dilakukan sebagai peroses penjaminan bahwa tahapan proses SOP ini adalah suatu alir proses yang sinkron yang ditetapkan dalam perusahaan.
(2) Proses pelatihan tim
Tim penyusun ISO tersebut kemudian diberikan program pelatihan penyusunan SOP untuk kemudian dilakukan proses penyusunan SOP sesuai dengan program kinerja yang telah ditetapkan tersebut.
(3) Melakukan proses interview terhadap karyawan
Tim kemudian dibagi untuk melakukan proses penyusunan pola proses bisnis yang ada pada masing-masing departemen tersebut. Proses interview dapat dilakukan secara berkelompok atau individu untuk kemudian mendapatkan status alir proses yang tepat. Alir proses tersebut kemudian dipetakan untuk kemudian mendapatkan pemetaan terhadap proses bisnis yang ada.
(4) Melakukan proses penyusunan SOP
Melakukan proses penyusunan SOP yang dijalankan dalam perusahaan untuk kemudian dilakukan proses penyusunan SOP yang ada. SOP kemudian disusun untuk kemudian dibuatkan tahapan-tahapan proses yang ada.
(5) Proses implementasi
Kegiatan implementasi sendiri adalah menjalankan suatu bentuk tahapan operasional yang dilakukan sebagai bentuk "trial test" untuk dapat memastikan bahwa SOP yang ada itu sendiri telah dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan untu menjalankan proses implementasi yang dialankan.
(6) Proses evaluasi terhadap implementasi dan koreksi
Menjalankan tahapan dan proses evaluasi terhadap pembentukan dan penyusunan program implementasi yang dijalankan dalam tahapan proses evaluasi penerapan dan pengembangan Standard Operating Procedure (SOP) yang ada. Untuk kemudian dilakukan proses seleksi terkait dengan status dan tahapan proses koreksi dari SOP yang ada. Kemudian melakukan proses koreksi terhadap SOP yang ada.
Lalu bagaimana dengan pernanan konsultan, fungsi dan peranan konsultan dilakukan pada bagian berikut:
(1) Pelatihan karyawan
Dimana konsultan melakukan proses penyusunan materi program penyusunan SOP, mengajarkan teknik melakukan wawancana memberikan panduan terkait dengan status alir proses.
(2) Proses koordinasi dalam proses implementasi kegiatan penerapan SOP
Melakukan proses dan fungsi koordinasi yang terkait dengan status aplikasi dan implementasi SOP yang ada dalam perusahaan untuk kemudian melakukan proses penetapan penggunaan SOP yang ada di lapangan. Dimana salah satu fungsi dari konsultan adalah berperan dalam proses panduan referensi dari kegiatan SOP yang dijalankan tersebut.
(3) Melakukan tahapan proses evaluasi dari program pelaksanaan SOP
Melakukan status evaluasi dari implementasi dan kegiatan koreksi yang dijalankan dalam kegiatan penerapan SOP tersebut. Dimana menjalankan proses verifikasi untuk melihat kesesuian pelaksanaan dari SOP yang dijalankan tersebut.
Bagaimana perusahaan Anda akan melakukan program penyusunan SOP? Langkah-langkah internal apa yang akan dijalankan untuk memastikan bahwa peranan konsultan akan menjadi efektif dalam penyusunan SOP perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Langganan:
Postingan (Atom)